Sejarah Awal Industri Tekstil di Indonesia dan Perkembangannya

Sejarah awal industri tekstil di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1922 ketika Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Textiel Inrichting Bandoeng (TIB). Tujuannya adalah untuk menyiapkan tenaga yang handal di bidang tekstil dan mengembangkan alat penenunan.

Pada tahun 1929 industri rumahan mulai berkembang, yaitu pada sektor penenunan dan perajutan dengan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). ATBM sendiri diciptakan pada tahun 1926 oleh Daalennoord.

Pada masa itu ATBM digunakan untuk memproduksi kain tradisional seperti sarung, selendang, lurik, kain panjang hingga stagen.

Tahun 1939

Pada tahun 1939 penggunaan alat tenun bukan mesin atau ATBM mulai mengalami pergereseran dan untuk pertama kalinya digunakan alat tenun mesin (ATM) di wilayah Majalaya, Jawa Barat. Hal tersebut juga berkaitan dengan adanya pasokan listrik sejak tahun 1935.

Sejak saat itu industri tekstil dan produksi tekstil (TPT) di Indonesia semakin berkembang dan memasuki era teknologi dengan memanfaatkan mesin sebagai alat untuk penenunan atau weaving.

Tahun 1960-an

Pada tahun 1960-an pemerintah Indonesia membentuk organisasi yang menjadi wadah bagi industri tekstil yang dikenal dengan OPS (Organisasi Perusahaan Sejenis). Diantaranya adalah OPS Tenun Tangan, OPS Tenun Mesin, OPS Batik, OPS Perajutan, dan lain sebagainya.

Semua OPS tergabung dalam GPS (Gabungan Perusahaan Sejenis) yang kepengurusannya ditetapkan oleh Menteri Perindustrian Rakyat. Adapun perkembangannya adalah seperti berikut:

  • Di pertengahan tahun 1965-an terjadi peleburan antara OPS dan GPS yang namanya berubah menjadi OPS Tekstil. Organisasi ini memiliki beberapa bagian sesuai jenisnya, seperti pemintalan, penenunan, perajutan dan finishing.
  • Di awal tahun 1970-an berbagai organisasi tekstil mulai berdiri, diantaranya adalah Perteksi, Printer’s Club (Textile Club) serta beberapa perusahaan tekstil milik pemerintah.
  • Pada tahun 1974, tepatnya tanggal 17 Juni organisasi-organisasi tersebut menyelenggarakan konggres dan menyepakati didirikannya Asosiasi Pertekstilan Indonesia atau API.

Tahun 1970-an

Pada tahun ini industri tekstil di Indonesia sudah mulai berkembang dan ditandai dengan masuknya investor dari Jepang yang berinvestasi pada sub sektor industri hulu, yaitu meliputi spinning dan man made fiber making.

Periode Tahun 1970 – 1985

Sejarah awal industri tekstil di Indonesia juga ditandai dengan pertumbuhan yang cukup lamban dan terbatas sehingga hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar di dalam negeri. Adapun segmen pasarnya dari kalangan menengah – bawah.

Tahun 1986

Pada periode tahun ini industri tekstil dan produksi tekstil di Indonesia mulai menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang cukup menggembirakan, faktor penyebabnya adalah:

  • Iklim usaha yang terbilang kondusif dengan adanya regulasi pemerintah yang cukup efektif, karena fokus pada ekspor non migas.
  • Industri tekstil telah mampu memenuhi standar dengan kualitas tinggi sehingga bisa masuk ke pasar ekspor dengan segmen pasar atas – fashion.

Periode Tahun 1986 – 1997

Ekspor di bidang industri tekstil menunjukkan peningkatan yang signifikan dan menjadi bukti bahwa industri TPT Indonesia merupakan industri yang strategis dan menjadi andalan untuk menghasilkan devisa negara di sektor non migas.

Periode Tahun 1998 – 2002

Periode ini adalah masa yang paling sulit karena pasar ekspor tekstil nasional cenderung fluktuatif. Bisa dikatakan tahun-tahun ini merupakan periode chaos, penyelamatan dan juga survival.

Tahun 2003 – 2006

Periode ini menjadi masa normalization dan juga ekspansi sebagai upaya untuk mengatasi beberapa kendala yang muncul, seperti sulitnya mencari sumber pembiayaan serta kondisi iklim usaha yang kurang kondusif.

Tahun 2007 – 2010

Pada pertengahan tahun 2007 Indonesia mulai melakukan restrukturisasi permesinan pada industri TPT.  Pada periode ini Indonesia termasuk 10 negara pengekspor terbesar di industri TPT.

Pada tahun 2022 ini pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan hingga 3,33% pada kuarta I. Hasil ini juga menunjukkan adanya peningkatan jika dibandingan dengan tahun 2020 dan 2021 di masa pandemi.

Sumber gambar: